Rabu, 22 Februari 2012

Tidak Penting, Tetapi Penting (SERI 2)

Cerita singkat ini adalah lanjutan dari cerita sebelumnya. Jika sebelumnya banyak memuat tentang sekitaran jalan, maka sekarang aku akan membahas ceritaku bersama merk-merk yang ada di sekitar kita. Mohon maaf untuk merk yang tersebutkan, inilah parodi sederhana dalam otak udangku.


Ketika main ke tempat kos teman, tidak ada buku yang menarik untuk dibaca dan petunjuk hape milik temankupun jadi sasaran bacaku. Membaca buku kecil itu lembar demi lembar, dan akhirnya aku menemukan sebuah kalimat yang mungkin konyol di pikiranku. Bagi kalian yang punya Sony Ericson tipe X8, di buku kecil yang berjudul informasi penting. Tepat pada uraian baterai. Kurang lebih kalimatnya seperti ini “ Isi daya baterai hingga penuh sebelum digunakan untuk pertama kalinya. Gunakan hanya bla bla bla bla bla bla…JANGAN MASUKKAN BATERAI KE DALAM MULUT”. Lagian orang kurang kerjaan kayak apa yang sempet-sempetnya masukin baterai ke dalam mulutnya. Kalimat itu juga dapat diartikan, berarti selain dimasukkan ke dalam mulut boleh dong dimasukkan ke yang lain. Hiiiiii geli. Ampun baterai jangan sodomi aku hoooeeeek. #Edisi Maaf Sebut Merk
#+++#
Tiap malam sebelum tidur aku selalu melakukan ritual unyu ku yaitu menggosok gigi. Malam itu entah LISTERINE siapa yang aku pakai di kamar mandi. Saat aku menuangkan isinya ke dalam tutup botol, aku membaca 2 kata yang mungkin membuat aku penasaran. Peringatan : “JANGAN DITELAN”. Larangan itu menggodaku, aku serasa membawa sebuah peti yang entah apa isinya sementara di luar peti itu ada tulisannya “JANGAN DIBUKA”. Sebagai anak puber yang penuh dengan keingintahuan akupun melanggarnya.GLEEEEKKKK (aku telan). Terimakasih petunjuk, besoknya aku mencret. #Edisi Maaf Sebut Merk
#+++#
Ada sebuah majalah di kampusku, DIDAKTIK namanya. Edisi XXIX coba baca di halaman 27 samping kanan foto. Ternyata tidak hanya anak-anak muda labil saja yang menggunakan bahasa alay, di situ juga ada sebuah kalimat yang salah posisi dan akhirnya hanya bisa dibaca “ nnnaaaGraiuairGiu”. Mungkin itu bahasa alien yang artinya ASOLOLE. Dan Aku hanya bisa menjawab ICIK-ICIK EHM. #Edisi Maaf Sebut Merk
#+++#
Bicara masalah cinta, walaupun lahirku Kamis Wage menjelang Jumat Kliwon, muka horor dan sifatku aneh. Gini-gini juga pernah punya cewek lho. Pernah suatu malam aku dan doi makan dawet di pinggir jalan. Anehnya malam-malam kok ada dawet ya di situ. Karena ingin romantis maka kita memesan es dawetnya satu mangkok saja (alasan buat hemat beb). Saat meminum satu sendok, dua sendok, keadaan itu berjalan dengan lancar. Sendokan ketiga ternyata si doi menemukan rambut berbentuk kriting panjang sekali, persis seperti rambut makhluk yang ada difilm-film horor indonesia sekarang. Jiaaaaaaaaaaahh alamat ini. Sedikit demi sedikit aku dan doi melirik ke belakang dan ohhhhhhhhhh tidaaaaaaaaaaaaakkkk. Ternyata pedagang itu adalah SEEEEEEEE, SEEEEEE, SEEorang tukang dawet yang merangkap sebagai tukang buat sapu dan keset….jiaaaaahhhh bruaaakkk. #Edisi Semi Horor



#+++#
Malam terasa sunyi dan lapar, hanya Sarimie isi dua yang setia menemaniku. Memasak mie sambil berkata satu, satu, satu berharap Ayu Ting-Ting langsung memegang tanganku dan bernyanyi duaaaaaaaaaaaaaa, tapi kejadian itu ternyata hanya terjadi di iklan saja. Tetapi yang terpenting saat itu bukan pada Ayu Ting-Ting, mie atau bumbunya, tetapi kecapnya. Teringat pertemuanku sebelumnya pada sang mantan, persis seperti nasib kecap Sarimie isi dua yang siap kusobek. Kecap yang tercampur dengan minyak bagaikan diriku dan dirimu yang tak mungkin bisa bersatu walaupun telah dibungkus menjadi satu. Aku sangat sedih malam itu. Dalam diam akupun berharap, semoga besok aku tak lagi mencret karena memakan mie lebih dari satu #Edisi Galau

Minggu, 19 Februari 2012

Tidak Penting, Tetapi Penting (SERI 1)

Ada beberapa kejadian yang sebenarnya tidak penting, tetapi entah mengapa jadi penting buatku ketika kejadian itu menjadi sebuah parodi sederhana dalam bayangan dan khayalanku. Contohnya seperti cerita-cerita singkat seperti ini nih nih…….!
#+++#
Kesalahanku ketika menyetir sepeda adalah saat mata ini tak fokus dengan jalan dan beralih pada kaos seseorang yang bertuliskan “Segoblok-gobloknya orang goblok masih goblok orang yang sempet-sempetnya membaca tulisan ini apalagi sambil menggerakkan bibirnya”. #Edisi Gondok
#+++#
Sore itu hujan mengguyur kota Malang, tradisi mingguanku adalah pulang kampung. Aku pulang bersama sahabatku sebut saja namanya Mandra. Emperan rumah orang yang luaspun menjadi tempat untuk kami dan beberapa pengendara motor lainnya untuk berteduh. Ketika berteduh si Mandra memamerkan HPnya yang baru,”Coyyyy hape aku nehhh baru mantap bisa buat foto, video, layar sentuh”. “Terus, Masalah buat ayeeee?”, jawabku gondok. Yeeeee dibilangin sewot. Setelah beberapa saat HP si Mandra berbunyi. Kriiinng…kriiinggg, tittt, halooooo,hallooooo, sahut Mandra dengan nada keras tak beraturan. Halooooo, suara gak jelas,bentar aku cari signal dulu, haloooo,. Berjalan keluar tempat berteduh menaikkan HPnya, memukul-mukul, sedikit memanjat pohon mangga di depan rumah orang dan kembali berteriak,”Haloooooo, haloooo tes tesss….suaramu kecilll hahaha sial haloooooo haloooo hahahaha BRUUUUUT”. Kentutnya terdengar menggema di tempat berteduh, tingkahnya membuat gondokku semakin besar. Tiba-tiba ada suara dari sampingku,”temannya ya dek?”. “oohhhhhhhh bukan pak, saya tidak kenal mungkin dia baru lepas dari RSJ. #Edisi IMAGE
#+++#
Saat aku bersepeda menyusuri jalan dari rumah menuju kos, terlihat dua orang anak muda puber berboncengan sambil pegangan pinggang sangat erat. Sampai tidak ada jarak, lengkapnya lagi sepedanya melaju 15km/jam. Suatu saat ketika mempunyai kekasih, aku akan bilang kepadanya, sayang, saat aku bonceng, kamu pegangan pundakku aja ya. Pasti dia protes tuh,”Lho kenapa, kamu gak sayang ya sama aku”. Bukan begitu, kalaupun kamu peluk pinggangku, pasti yang dipeluk bangku peott yang aku duduki, karena aku bawa BAJAI sayaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaang. # Edisi Gondok
#+++#
Saat aku masih menyandang pangkat sebagai orang KC( Kaya Cinta) yang kemudian bangkrut dan inerbeuaty ku disita bank asmara, hingga aku menjadi sekarang ini MC(miskin Cinta). Jalan-jalan nih aku dengan si doi melihat pemandangan-pemandangan yang memanjakan mata. Ketika melewati jalan, terlihat dua sejoli yang sedang bertengkar. Kamu cowok brengsek,”terdengar cewek itu memaki cowoknya. Cowok itupun tidak terima dan kemudian memukul wanita itu dengan helm yang dibawanya. BRAAAAAAKKKK(suaranya nyaring). Kejadian itupun spontan membuat doi ku mrinding dan bertanya kepadaku,“Sayang kalau kita nanti bertengkar apa kau akan memukulku seperti itu?”. Akupun berusaha meyakinkannya, “ya enggak lah sayang”. “Kenapa?”, tanya si doi lagi. “Ya aku gak tegalah”, kata-kataku terdengar ambigu di telinga si doi hingga memaksa ia mengerutkan dahi dan menajamkan pandangannya kepadaku. “Bohong”. “Aku gak tega lihat kamu nangis karena waktu nangis kamu jelek, keluar ingusnya mengalir nyampek mulut, matanya merah berasa mau makan bayi, upilnya juga ada yang nyangkut dikit di lubang idung hiiiiiii”, ujarku dengan muka ekspresif dan lugu. Doi= Grrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr guk guk guk. #Edisi Perang

Rabu, 01 Februari 2012

Serpihan Mutiara Kisah (SERI 1) Senyuman Malaikat dari Jon


Mentari bersinar cerah memanggilku seakan aku dituntun untuk segera menuju tempatku bekerja. Sepedahku berbunyi merdu mengantarkanku ke sebuah tempat terindah bagiku, Sekolah Dasar. Ya, aku bekerja di sana menjadi seorang guru. Pak Aldi asalamualaikum, “Sapa seorang siswa bernama Helen sambil mencium tanganku ketika aku turun dari sepedah. Aku berjalan menuju ruang guru yang saat itu masih kosong. Segera duduk di bangku dan menatap meja yang bertuliskan nama Aldi Pramestu, S.Pd. Hhmmm, melihat gelar sarjana pendidikan akupun tersenyum dan teringat perjuanganku di masa lalu.

Mengingat banyaknya aku belajar dari kisah-kisah hidup sahabat-sahabatku yang menjadi sebuah pembelajaran dalam setiap langkah hidupku. Sahabat mulai dari aku sekolah hingga aku lulus menjadi sarjana. Masih terniang kenangan saat diriku masih duduk di bangku SMP. Bagiku awal masuk SMP adalah hal yang paling tidak aku inginkan, karena tak ada satupun teman SD yang bersamaku di SMP Negeri Batu. Hidupkusangat membosankan karena pada dasarnya aku adalah anak yang pendiam dibandingkan teman-teman yang lain, sampai aku kenal dengan sahabatku yang bernama Jonatan. Dialah sahabat pertamaku di sekolah menengah pertama dan pengalamannya menginspirasiku. Kali ini aku akan menceritakan kisah hidup jonatan yang sangat menginspirasi hidupku di masa depan. Pertama mengenal sahabatku ini, aku tertipu dengan bicaranya yang kelihatan cerdas. Saat di kelas tak satupun pelajarannya mendapat nilai diatas 5, kecuali pelajaran seni musik. Tak heran jika kebanyakan anak-anak wanita mulai dari kelas satu hingga kelas tiga mengidolakan dia. Suatu ketika Jonatan berkata kepadaku,”hei meeeenn, apa kau tak lihat gadis manis yang teriak histeris melihatku tadi,”kata Jonatan sambil menaikkan alisnya. “Lihat, mungkin dia takut denganmu,”aku tak kehabisan akal mengejeknya. “Baaaahhh, kau ini pura-pura tak tahu, dia mengidolakanku Al,hmmmm…,”balas Jonatan dengan menaikkan alisnya sebelah. “Kamu bisa aja Jon, ingat tuh ulangan matematika 3 hari lagi, masih kamu urus saja hal yang tidak pentik seperti ini,”kataku mengingatkan. Jiiiiaaaa aku malas pelajarannya Pak Jun, kalau melotot serem, ahaha. Tiba-Tiba di depan kami berdiri seorang guru yang ternyata itu Pak jun, Guru matematika kami. “Jonataaaaaaan, lari lapangan basket 3x”, ujar Pak Jun dengan nada tinggi.“Iya pakkkk Ampuk Pan”. Saking takutnya tanpa sadar Jonatan membalik huruf yang dikatakannya yang seharusnya “ampun pak” menjadi “ampuk pan”. Rasakan kamu Jon hahaha”. “Aldi, kamu juga ikut lari sana,”bentak Pak Jun.
Jonatan dikenal oleh banyak warga sekolah karena ia sangat lihai memainkan alat musik apapun, jika melihat Haji Roma Irama, aku berpikir Jonatanlah yang aku pikir pantas menyandang Roma Irama junior. Rambutnya yang ikal mirip Roma irama serta cengkok dangdutnya yang sangat kental dan merdu. Tas punggungnya yang besar membuat Jon tampak seperti mempunyai tubuh besar. Bajunya yang selalu tak rapi membuat ia berkali-kali dihukum oleh Pak Jun, Guru matematika di kelasku sekaligus Guru yang mengurusi ketertiban siswa. Karena keahliannya, tak heran jika anak-anak wanita di kelas hingga kakak kelas ikut tergila-gila dengan si Jonatan. Jika berbicara masalah seni, ide-ide gila yang terkadang tidak masuk akal tetapi hebat muncul dari otaknya yang suka bereksperimen dengan hal-hal yang berbau dengan seni. Terkadang ia terlihat menyendiri di disamping kelas, ketika aku dekati diapun berkata,” jangan kau dekati aku dulu Al, aku masih mencari inspirasi ini. Aku hanya bisa mengerutkan dahi dan pergi meninggalkan dia sendiri.
Hari Maulid Nabi telah tiba, beberapa kegiatan direncanakan untuk merayakan hari Maulid Nabi. Jonatan pun diminta oleh guru pelatih untuk memimpin teman-temannya latihan dengan alat musik terbangan atau biasa disebut rebana. Jika pada umumnya rebana atau terbangan itu dipukul memakai telapak tangan, si Jonatan yang gila ini meminta ijin kepada guru untuk memainkannya menggunakan jari telunjuk. Dan apa yang terjadi dengan hasilnya wawww, seniman satu ini memang sukses membuat permainan rebana dari yang tadinya tidak karuan menjadi lebih tidak karuan. Mendapati apa yang dilakukan bersama teman-temannya jadi hancur, dia pun tiba-tiba berteriak “Stoooooooppp, kalian main tidak karuan huuuuh. “Kamu kenapa Jon marah ya, maaf kami memang belum bisa”, ujar salah satu temannya. “Lho, Lho, Lho, yang bilang marah siapa, Aku laki-laki maco meeenn, kalian tahu apa syarat jadi laki-laki maco?”. “Memangnya apa?”, tanya teman Jon begitu penasaran. “Aku baca dimajalah bobo syarat menjadi laki-laki maco adalah tidak cengeng, kuat dan tidak pemarah”. “Lalu kenapa kau berteriak seperti orang marah”. Hal terkonyol saat itu yang aku dengar dari Jon adalah “Aku berhenti latihan dulu mau pulang, aku mau main boneka sama adik”. Terlihat aneh muka semua teman Jonatan dengan alasan itu. Baru lima menit yang lalu dia bilang bahwa dirinya maco, yahhh sekarang malah mau pulang main boneka.
Acara perayaan maulid Nabi akhirnya tiba. Jonatan tampak sibuk mempersiapkan alat rebana bersama teman-temannya. Tampaknya mereka tetap konsisten dengan memukul rebana ala telunjuk jari. Itu terlihat dari semua telunjuk tangan mereka yang dibalut dengan plester. Tiba saatnya si Jon dan kawan-kawan memainkan musiknya. Disamping itu musik rebana mereka juga akan mengiringi nyanyian sholawat nabi oleh anak-anak kelas dua. Suasana tampak sunyi menanti penampilan mereka, menunggu pukulan pertama dari rebana yang tak kunjung dipukul. Terdengar suara dari rebana tak, tak tak tak tak, dengan jarak ketukan satu yang dilakukan secara teratur. Dikuti dengan suara rebana dung,dung,dung dengan jarak ketuk empat. Suara tamborin menyatu kedalam alunan musik tersebut. Kemudian Jonatan pun berjalan maju sedikit di depan teman-temannya, menaruh alat musiknya dan memukul rebananya, mencari celah kosong diantara bunyi tak dan dung yang dibalut dengan padatnya suara tamborin. Aku tak menyangka saat itu bagaikan melihat sebuah pertunjukan perkusi yang spektakuler tetapi mereka menggunakan instrumen rebana. Diakhir intro musik tampaknya Jonatan memberikan kode dengan hitungan bahwa intro musik akan segera berakhir. Pada hitungan keempat mereka mengakhiri intro musik dengan serempak dan teriakan hooyy. Penontonpun bertepuk tangan serempak. Tidak berhenti sampai disitu anak kelas dua melanjutkannya dengan nyanyian dan musik Jon dan kawan-kawan kembali berbunyi mengiringi nyanyian. Tidak terasa acara perayaan Maulid Nabi akhirnya selesai, semua terlihat dan terdengar indah bagiku, itulah seni. Sebuah seni yang aku lihat dari teman-temanku yang luar biasa. Nampaknya langit siang itu tak bersahabat denganku. Hujan mengantarkanku pulang menuju rumah.
***
Pagi itu langit terlihat diselimuti oleh awan hitam hingga pekatnya terlihat sangat menakutkan. Aku berangkat menuju sekolah dengan perasaan malas yang jauh lebih besar dari biasanya. Di kelas tak melihat tanda-tanda adanya si Jon di bangkunya. Satu minggu berlalu, bangku si Jon masih tetap kosong. Akupun berniat mengunjungi rumahnya untuk mencari tahu apa penyebabnya dia tidak masuk sekolah hingga satu minggu lamanya tanpa alasan. Terus terang baru satu kali itu aku ke rumahnya, ternyata jaraknya lebih jauh dari apa yang dibayangkan. Ketika aku sampai di depan rumahnya, aku mencoba untuk mengetuk pintu. “Asalamualaikummm”, tak ada jawaban. Kemudian tetangga sebelah rumah tiba-tiba keluar dan berkata kepadaku”, Kamu temannya Jonatan?”. “Iya Bu, kalau boleh tahu Jonatannya kemana ya Bu, kok kelihatannya tidak ada di rumah”. Jonatan sekarang ada di rumah sakit nak, Ibunya sakit”, kata wanita separuh baya itu. “Oh, sakit Bu?Di rumah sakit mana ya kalau boleh tahu?”. “Di rumah sakit Permata Sakti, tempatnya ada di ujung desa ini yang dekat arah kota”. “O, iya terimakasih kalau begitu Bu. Ternyata rumah sakit itu pernah aku lewati tadi saat perjalanan menuju rumah Jonatan. Aku pun segera menuju rumah sakit Permata Sakti dengan menggunakan melihat seorang anak berdiri di sebelah halte bis. Wajahnya tak asing bagiku. Ya, itu Jonatan, wajahnya kelihatan capek, bajunya kotor dan terlihat menggendong sebuah tumpukan koran. Aku datang dan menepuk pundaknya dari belakang. Dengan wajah yang ceria dia pun membalikkan badan.”Hai , meeeennn kenapa kau di sini, mau minta tanda tanganku ya, sini, sini, sini, hahaha”. “Ahhh kamu ini ada-ada saja, oh iya katanya ibumu sakit,”tanyaku. Iya, makanya aku belum bisa masuk sekolah, eh jangan-jangan kau kemari diperintahkan oleh penggemar-penggemarku ya Al, kayak film saja hahaha, kalau di tivi ada judul misteri gunung merapi, kalau yang ini misteri idolaku yang hilang,pada resah ya idola kayak aku ini hilang dari sekolah hehehe,” kata Jonatan dengan wajahnya yang ceria. “Yaaahhh, tetap saja gayamu Jon, oh iya Ibumu sakit apa?Aku mau menjenguk”. Aku tak tahu Al Ibuku sakit apa, dokter menyebutkannya dengan bahasa yang aneh, belum ada perkataan dokter itu dipelajaran kita, ayo kita ke kamar inap ibuku,”ajak Jonatan. Kita berduapun masuk rumah sakit dan melewati beberapa kamar yang bertuliskan melati, mawar dan tulip. Ketika sampai di depan ruang kamar yang bertuliskan anggrek Jonatan pun berhenti dan membuka pintu ruangan. Jonatan menujuk seorang wanita yang tertidur lemas di kasur dan sebelahnya terlihat anak perempuan kecil duduk dikursi. Itulah adiknya Jon, namanya Allika.” Ini ibuku Al, ini ada selembar seperti foto klise dari dokter, akupun tak tahu artinya apa,”kata Jon sambil menyodorkan selebaran foto klise padaku. Klise itu ternyata rontgen atau sering disebut ronsen untuk melihat organ dalam tubuh dengan menggunakan sinar X. aku tahu hal itu karena dulu aku pernah melihat foto klise ini saat pamanku sedang sakit. Ini persis seperti gambar klise yang aku lihat dulu. Jika ini sama kemungkinan besar Ibu Jonatan menderita penyakit kanker otak.”Klise ini mirip dengan punya pamanku yang sakit kanker otak stadium ringan,”. “Eh iya, aku sempat mendengar dokter menyebut kanker padaku, aku ingat Ibu ku sakit kanker otak, tetapi aku kurang tahu kanker otak seperti apa yang diderita oleh Ibuku,”ujar si Jon. Aku kembali bertanya kepada Jon+“Kemudian ayah kamu dimana?”. “Ayahku sudah meninggal sejak aku masih dalam kandungan Ibu, aku lupa memberitahumu hehehe maaf ya”, jawab si Jon dengan wajah ceria. Akupun merasa sedikit aneh dengan sikap Jon, dia jalani beberapa hari ini dengan berjualan koran, dengan Ibunya yang sedang sakit tanpa didampingi oleh Ayahnya tetapi dia masih bisa bercanda bahkan tersenyum di depanku. Aku melanjutkan pertanyaanku.”Maaf Jon aku baru tahu kalau ayahmu sudah meninggal, aku tak bermaksud mengingat kesedihanmu,oh iya Ibu kamu sudah minum obat?”. "Bagaimana mau minum obat, koranku aja tidak habis sisa jualan pagi tadi, heh,heh,heh minta maaf kayak sama siapa saja kau hahaha, sudahlah kau tak lihat senyumku super manis ini, yang selalu dirindu-rindukan anak-anak wanita di sekolah kita hahahah,” kata Jonatan dengan semangat. “Kamu pakai uangku saja dulu Jon, kebetulan uang saku minggu lalu masih tersisa cukup banyak”. “Tak usah repot-repot lah kau, besok juga sudah bisa aku tebus itu obat,” kata Jon meyakinkanku. Setelah beberapa pemaksaan akhirnya Jonatan menerima tawaranku. Ia berlari menuju apotek untuk menebus resep dari dokter. Aku masih tetap di ruangan tempat Ibunya dirawat. Saat itu tiba-tiba aku kebelet buang air kecil. Akupun beranjak dan berpamitan dengan adik si Jon yang bernama Allika untuk pergi ke WC. Ketika kembali belum sempat membuka pintu ruang inap Ibu Jon, terdengar suara teriakan dari dalam.”Ibuuuuuuuuu,ibu kenapaaa!!”. Terdengar seperti suara Allika. Setelah aku buka ternyata benar. Terlihat Ibu Jon kejang-kejang. Dokter bergegas masuk dan memeriksanya. Akupun segera berlari menuju samping Ibu Jonatan yang masih tetap kejang terus menerus. Beberapa saat kemudian kejangnya mereda tetapi detak jantungnya secara bertahap melemah. Pada saat itu muncul Jonatan dengan membawa obat di tangannya.”Ada apa ini,Allika, Aldi ada apa dengan Ibuku. “Jonatan Ibu kamu tidak apa-apa, dokter mau bawa Ibumu ke ruang Darurat dulu ya, biar dokter periksa, nanti Jonatan tunggu di luar ruangan,”sahut dokter menenangkan Jon. Dokter menyuruh suster-suster untuk memindahkan Ibu Jonatan ke ruang Darurat. Akupun merangkul si Jon yang terlihat lemas dan menahan tangis. Telihat di kaca sebuah mesin kembar mirip setrika yang disentuhkan ke dada Ibu Jonatan. Tiga kali sentakan yang dilakukan oleh dokter. Dokter menyuruh suster untuk menutup tirai. Jonatan dan Allika sementara waktu tak bisa melihat keadaan Ibu, termasuk juga aku yang tidak bisa melihatnya. Dokter keluar ruangan dan tiba-tiba merendahkan badannya kemudian memegang kedua bahu Jonatan. Jonatan, kamu yang sabar ya, Ibu kamu sudah berada di surga sekarang”.”Maksud dokter?,”Jonatan berusaha ingin mengetahui lebih jelas lagi pernyataan dokter. Dokter memeluk Jonatan dan berkata,”Maafkan dokter, Ibu Jon sudah meninggal,”. Itulah kata-kata yang memilukan bagiku terutama bagi Jonatan dan Allika. Sore itu Ibu Jon menghembuskan nafas terakhir. Air mata yang lama tertahan akhirnya tak terbendung lagi. Jonatan menangis sambil memeluk adiknya. tangisnya terasa sakit, pilu, dan sunyi. Wajah yang selama ini aku lihat ceria kini berubah menjadi miris dan sedih. Jonatan merangkul adiknya Allika dan berkata,” kita harus kuat dek, ini bukan akhir dari segalanya. Itulah kata-kata terindah seorang kakak menguatkan adiknya yang diucapkan oleh anak berusia 13 tahun. Akupun ikut hanyut dalam keharuan itu. Inilah cobaan berat yang dipikul oleh seorang anak berusia 13 tahun. Tak bisa ku bayangkan jika hal ini terjadi padaku.
Aku masih ingat ketika duduk di bangku SD jatuh dari sepedah ketika ditabrak oleh orang yang bersepedah berlawanan denganku. Empat minggu aku sakit, terus mengeluh, tak pernah tersenyum dan menyalahkan Tuhan atas apa yang aku alami. Dan sekarang aku melihat sebuah contoh yang baik dari sahabatku yang mengalami cobaan jauh lebih berat dari apa yang telah aku alami. Bahkan beberapa saat setelah ibunya meninggal Jonatan sempat berbisik kepadaku sambil mengusap air matanya. “Aku bermimpi menjadi seorang yang hebat, maka dari itu aku akan terus berjalan menggapai cita-citaku dan tak kan ku buat Ibu bisa bangga kepadaku di alam sana”. Senyumnya kembali datang nagaikan senyuman malaikat menghangatkan senja yang kelabu.