pasti kita pernah marah dan bilang "kesabaranku sudah habis". kemarahan memang sifat yang manusiawi. Keadaan marah terkadang menyebabkan situasi yang serba salah. Telah dijelaskan dalam Al-Quran Surat al nahl ayat 126 yang artinya "Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar". Jadi semarah apapun kita apa salahnya kita tetap memilih sabar. setiap manusia memperoleh cobaan sesuai dengan kemampuannya. Dan senjata paling ampuh untuk menghadapi cobaan itu adalah kesabaran. Ada sebuah kisah yang bisa kita jadikan tauladan yaitu kisah tentang Nabi Nabi Ismail. Nabi Ibrahim ayah Nabi Ismail yang memperoleh wahyu untuk menyembelih anaknya. ketika Ismail digoda oleh iblis Ismailpun berkata “Demi perintah Allah! Aku siap mendengar, patuh, dan melaksanakan dengan sepenuh jiwa ragaku,” jawab Ismail dengan mantap.
Sesampainya di Mina, Nabi Ibrahim AS berterus terang kepada putranya, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?…” (QS. Ash-Shâffât, [37]: 102).
“Ia (Ismail) menjawab, ‘Hai bapakku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah! Kamu mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. Ash-Shâffât, [37]: 102).
Mendengar jawaban putranya, legalah Nabi Ibrahim AS dan langsung ber-tahmid (mengucapkan Alhamdulillâh) sebanyak-banyaknya.
Untuk melaksanakan tugas ayahnya itu Ismail berpesan kepada ayahnya, “Wahai ayahanda! Ikatlah tanganku agar aku tidak bergerak-gerak sehingga merepotkan. Telungkupkanlah wajahku agar tidak terlihat oleh ayah, sehingga tidak timbul rasa iba. Singsingkanlah lengan baju ayah agar tidak terkena percikan darah sedikitpun sehingga bisa mengurangi pahalaku, dan jika ibu melihatnya tentu akan turut berduka.”
“Tajamkanlah pedang dan goreskan segera dileherku ini agar lebih mudah dan cepat proses mautnya. Lalu bawalah pulang bajuku dan serahkan kepada agar ibu agar menjadi kenangan baginya, serta sampaikan pula salamku kepadanya dengan berkata, ‘Wahai ibu! Bersabarlah dalam melaksanakan perintah Allah.’ Terakhir, janganlah ayah mengajak anak-anak lain ke rumah ibu sehingga ibu sehingga semakin menambah belasungkawa padaku, dan ketika ayah melihat anak lain yang sebaya denganku, janganlah dipandang seksama sehingga menimbulka rasa sedih di hati ayah,” sambung Isma'il.
Setelah mendengar pesan-pesan putranya itu, Nabi Ibrahim AS menjawab, “Sebaik-baik kawan dalam melaksanakan perintah Allah SWT adalah kau, wahai putraku tercinta!”
Kemudian Nabi Ibrahim as menggoreskan pedangnya sekuat tenaga ke bagian leher putranya yang telah diikat tangan dan kakinya, namun beliau tak mampu menggoresnya.
Ismail berkata, “Wahai ayahanda! Lepaskan tali pengikat tangan dan kakiku ini agar aku tidak dinilai terpaksa dalam menjalankan perintah-Nya. Goreskan lagi ke leherku agar para malaikat megetahui bahwa diriku taat kepada Allah SWT dalam menjalan perintah semata-mata karena-Nya.
Nabi Ibrahim as melepaskan ikatan tangan dan kaki putranya, lalu beliau hadapkan wajah anaknya ke bumi dan langsung menggoreskan pedangnya ke leher putranya dengan sekuat tenaganya, namun beliau masih juga tak mampu melakukannya karena pedangnya selalu terpental. Tak puas dengan kemampuanya, beliau menghujamkan pedangnya kearah sebuah batu, dan batu itu pun terbelah menjadi dua bagian. “Hai pedang! Kau dapat membelah batu, tapi mengapa kau tak mampu menembus daging?” gerutu beliau.
Atas izin Allah SWT, pedang menjawab, “Hai Ibrahim! Kau menghendaki untuk menyembelih, sedangkan Allah penguasa semesta alam berfirman, ‘jangan disembelih’. Jika begitu, kenapa aku harus menentang perintah Allah?”
Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata (bagimu). Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Ash-Shâffât, [37]: 106)
semoga kita tergolong orang-orang yang sabar. amin.
Rabu, 16 November 2011
Senin, 14 November 2011
TERLALU SUBUHKAH KITA UNTUK BANGUN
terlepas konflik di Papua yang sedang bergejolak akhir-akhir ini, coba sahabat kita tengok sepintas tentang keadaan negara kita yang tercinta. Bisakah keadaan gemah ripah loh jinawi yang sering kita dengar dari bania, pasti lebih banyak memiliki penduduk yang sumber daya manusianya sudah sangat tinggi. Orang-orang yang memiliki sumber daya manusia yang sudah sangat tinggi misalnya berasal dari penduduk Amerika Serikat, Cina, Rusia dan Negara lainnya mampu mencetak orang-orang yang sudah sangat berjasa di bidang iptek maupun ilmu pengetahuan. Ini merupakan faktor dari sumber daya manusia orang tersebut. Indonesia merupakan negara yang memiliki penduduk yang sangat banyak, tetapi jarang penduduk Indonesia yang dapat menyamai prestasi yang sama seperti penduduk di negara lain. Inilah lemahnya bangsa Indonesia yang memiliki jumlah peduduk yang banyak tetapi masih kurang di sumber daya manusianya. Jadi sangatlah penting sumber daya manusia yang berkualitas bagi semua orang. Penduduk Indonesia masih belum mengerti banyak tentang pentingnya sumber daya manusia yang berkualitas itu. Untuk mengatasi ini semua bisa dimulai dengan memberi perhatian khusus terhadap anak-anak generasi penerus bangsa. Selain itu banyaknya penduduk miskin di Indonesia yang tidak menyekolahkan anak-anaknya karena masalah dana yang tidak mampu untuk mambayar biaya sekolah. Walaupun sudah mendapat BOS (Bantuan Oprasional Sekolah) dan Bea Siswa tetap saja tidak dapat untuk membeli peralatan belajar dan perlengkapan sekolah.Disamping permasalahan itu kata-kata kapitalisme tampaknya sudah tidak asing ditelinga para sahabat. Semenjak penjajahan Belanda terhadap Indonesia, nasib Indonesia telah terhubungkan dengan perkembangan kapitalisme dunia.
kalau bisa diistilahkan dengan sedikit gurauan serius terbitnya matahari dari barat diartikan bahwa ilmu dan pemahaman Barat berupa Kapitalisme yang melahirkan pola kehidupan materialistik, kesenjangan dan dehumanisasi telah menjadi acuan; maka “kiamat” dalam tatanan hidup manusia sudah dekat. Dan tak ada cara yang lain kecuali mengadopsi sistem yang telah dibuatkan Sang Kholik yang tahu persis apa yang terbaik untuk makhluknya.hehehehehe :-D
Bangsa Indonesia bisa bangkit, tampaknya kita tidak terlalu subuh untuk bangun dari keadaan terjajah secara ekonomi dengan mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas.
Mawar Di Atas Rel Kereta (CERPEN)
Terlihat seorang pemuda dengan kemeja dan setangkai mawar berjalan di bawah gerimisnya senja. dengan senyum yang lebar ia bergegas menuju sebuah rumah tinggi dan besar di sebuah perumahan elit. ia persiapkan rasa percaya dirinya menuju kesana dan menyiapkan mentalnya untuk bertemu bidadari yang telah menggilakan hatinnya.
Kirana itulah nama seorang gadis yang ia kejar-kejar. dari kejauhan terlihat senyumnya yang membuat pemuda itu semakin terpana. "Kirana apakah kamu bisa turun sebentar dari persembunyianmu itu", minta Yusuf karena keinginannya untuk menemui Kirana. Ya.. Yusuf, itulah nama panggilan pemuda si pembawa mawar. hei Kirana, aku kesini untuk membicarakan sesuatu kepadamu. Aku tidak apa yang bisa aku lakukan untuk meyakinkanmu tapi yang jelas aku merasa ada yang lain di hatiku."Apa Suf?",tanya Kirana. aku mencintaimu Kirana. Kata-kata Yusuf membuat Kirana bingung dan tidak berani menatap matanya. Kiranapun bicara dengan nada sedikit pelan. Yusuf, aku tidak menyangka kamu bakalan pnya perasaan lebih buat aku,tetapi kemarin-kemari aku sedikit merasa kamu punya rasa denganku. aku pun berniat untuk membuka hati untukmu, tapi nyatanya tidak bisa Suf. Dalam hatiku masih ada orang lain, walaupun sekarang pada kenyataannya aku masih sendiri. bawa kembali bunga mawarmu aku minta maaf tidak bisa menerima cintamu. Tapi aku cinta sama kamu Kirana",jawab Yusuf menegaskan maksudnya. Iya aku tahu, aku minta maaf tidak bisa menerimamu. Yusuf pun pulang dengan pesaan luka. satu minggu kemudian dia mendapati Kirana berpacaran dengan teman dekatnya. tanpa sengajaa Yusuf bertemu dengan sahabatnya yang sedang jalan berdua dengan Kirana dan menyapanya. "Hei Suf,bagaimana kabarmu, oh iya kenalkan ini Kirana Tunanganku bulan depan kita akan melangsungkan pernikahan",ujar sahabtnya tersebut. setelah pertemuan itu Yusuf merasa hancur ia berjalan di pinggir jalan dan masih merasakan tersakiti bahkan dianggap tidak ada, terlebih bayangannya sendiripun tidak mampu menolongnya. dilihatnya setangkai bunga yang sedikit layu sisa minggu lalu masih terlihat di bibir tasnya. hujan lebat mengguyur badannya yang kurus dan Yusuf berjalan menuju stasiun kereta. ia tidak punya daya untuk melihat dunia hingga keinginannya untuk bunuh diri muncul. berdirilah Yusuf di tengah rel kereta api dengan tangan terlentang ditemani hujan lebat dan tangisan yang menyakitkan menusuk hatinya. Setelah sekian lama terdengar sebuah kereta api berjalan dengan kecepatan tinggi dari arah utara menuju ke arahnya. pikiran Yusuf mulai terbuka, buat apa ia bunuh diri, apakah ini cara terbaik untuk membalas dendam?Tidak. Seketika ia langsung loncat menghindari kereta api yang melesat cepat menuju arahnya. Bunga mawar yang awalnya ingin dikasihkannya kepada Kirana terjatuh di atas rel dan terlindas oleh kereta api yang tengah lewat di depannya. Bunga itu hancur lebur sebagaimana hati Yusuf yang terluka karena Kirana. Ia larut dalam kesendiriannya dan berpikir "salah satu cara ampuh untuk balas dendam adalah menjadi lebih baik dari apa yang dikira". ya aku akan berusa jauh lebih baik dan akan aku buktikan padanya bahwa aku bisa jadi yang terbaik.......TO BE CONTINUE..............
Jumat, 11 November 2011
Drama "Lubang Cahaya".
“Lubang Cahaya”
Jarwo : (sambil membuang putung rokok yang telah dihisap) hahaahhaahhahahahaha aku penguasa di sekitar sini! Binatang jalang yang ditakuti semua orang. Akan ku sikat semua uang orang yang lewat di hadapanku. Bukannya sama saja aku dengan para petinggi-petinggi yang korupsi itu sodara. Cuma bedanya mereka pakek cara halus dan preman pakek cara kasar. Hahahahaha akulah orang terhebat....hahahahahaha.
Surti : (menjitak kepala suaminya dari belakang) ealaaaahhhh, disuruh nyuci piring lhakok malah main-main di sini.pulang,pulang, pulang. Mau tidur di luar lagi (Sambil menjewer kuping Jarwo)
Jarwo : Ampun dek Surti, ampun, ampun…..(Sambil berjalan mengikuti jeweran Surti)
Di seberang jalan pinggir kota terlihat Jarwo dan Rojak bermain kartu domino sambil meneguk beberapa botol minuman keras. Tiba-tiba dari arah jalan raya berlari Bondet dengan wajah panik menuju tempat kedua temannya.
Jarwo : Ada apa ndet? Kelihatannya kamu kayak orang kesurupan begitu?
Bondet : Gawat Bro, gawaaat. (ngos-ngosan seperti hampir kehabisan nafas)
Rojak : Tenang, tenang. Setelah tenang baru ceritakan ada apa.
Bondet : anu, ada anak buahnya Mat Brewok brengsek sedang malak anak-anak sekolah di tempat kita
Jarwo : anjiiiing! Dia gak mandang aku sebagai pemimpin di wilayah ini. Selalu orang itu cari masalah, ayo…kita hajar mereka.
Berangkatlah mereka bertiga menemui anak buah Mat Brewok yang tengah melakukan transaksi narkoba.
Jarwo : hei bangsaaat….ngapain kau di situ. Aku hancurkan kalian semua.( sambil berjalan mendekati tempat transaksi)
Cukup tenang ketiga anak buah Mat Brewok mendengar gertakan Jarwo.
A.B1 : Banyak bacot kau, aku jadikan kau kerupuk kulit.( berlari mengawali serangan)
Satu jam perkelahian dan akhirnya anak buah Mat Brewok pun kalah.
Jarwo : (Menyincing kerah baju salah satu anak buah Mat Brewok) Bilang sama bos kau yang kutu kupret itu. Kalau kalian masih malak orang di wilayah kekuasaanku, kalian akan aku kirim ke SUUURRRGAAAAAAAAA!!!!!!!
A.B : Ampun bang, ampun…
Di samping trotoar terlihat anak kecil yang tanpa sengaja mendengarkan omongan Jarwo tadi.
Indri : Surga? Apa Abang itu tidak salah bicara? Berarti dia bisa membantuku.(Duduk tersimpu di pinggir jalan dengan menutup mulutnya dengan lutut).
Jarwo : Gimana bro kalian gak papa, ayo kita pulang
Bondet dan Rojak : Gak papa bos.(memegangi pipinya yang memar dan mengikuti langkah Jarwo pulang).
Ditengah perjalanan pulang mereka bertiga sadar kalau dia telah dibuntuti oleh anak kecil. Jarwo memerintahkan kedua temannya untuk lari dan bersembunyi di belokan gang depan. Anak kecil itupun ikut lari, seketika bingung sosok yang diikuti lenyap begitu saja. Tiba-tiba jarot membekap mulut anak dari belakang dan menyeretnya ke samping gang
Jarwo : Jiaaaahhh, kena kau curut kecil…..hahahahaha
Indri : Ampun bang, ampun… saya cuma minta tolong sama abang.
Jarwo, Rojak, dan Bondet terdiam seketika, kemudian melepaskan dekapannya dan mencari posisi duduk yang enak. Sambil menyalakan sepuntung rokok Jarot menanyakan nama dan maksud si pembuntut kecil itu.
Jarwo : Siapa namamu? Trus maksud kamu apa minta bantuan sama kita?
Indri : Namaku Indri, tadi denger Abang bicara tentang surga dan aku ingin tahu dimana surga itu berada.
Jarwo : Surga??? Kapan yah??? Waduh perasaan aku kagak pernah bicara-bicara tentang surga. Gimana menurutmu Jak, Ndet???
Bondet : Surga?? Itu apa yah??? Pasti sesuatu…
Rojak : Alhamdulillah yaaah….aku tahu dunk, yang biasanya disebut-sebut upah dari kebaikan itu kan, kayaknya begitu hahahaha.
Jarwo : Upah dari kebaikan? Aneh…dimana alamat surga ya. Kalau misalnya tidak ada upahnya kira-kira apa mau, orang-orang yang menamai dirinya “malaikat bumi” masih tetap berbuat baik…hahahahaha… Akhirnya kita juga yang menang….Preeeeeeeemaaann hahahahaha
Bondet& Rojak : (mengikuti tertawa si Jarot tanpa mengetahui maksud dari perkataannya). Hahahahahahaha
Rojak : oiya…Indri dimana rumahmu? Kenapa kamu mencari tempat itu. ada urusan apa kamu mau ke surga.
Indri : Aku tidak punya rumah, kata pemuda yang ada di Masjid dulu, Ibuku sudah ada di Surga. Aku ingin mencari dan bertemu dengan Ibuku.
Bondet : ibumu di Surga?
Jarwo : Kalau begitu kita akan bantu kamu mencari dimana Surga itu, tapi jangan sekarang sudah sore, besok pagi saja kita cari bersama-sama. Sementara kau tinggal di rumahku saja.
Rojak : Istrimu kagak cuap-cuap tuh Wok….? Lu kan takutnya setengah mati sama istrimu.
Jarwo : Bukannya takut Jak, masalahnya gua kagak dikasih jatah neeehh kalau ngelawan. Gampang dah si Surti biar aku yang urus.
Berpisahlah mereka semua menuju rumah masing-masing. Setibanya di rumah Jarwo dengan sedikit keraguan Jarwo mengetuk pintu rumahnya.
Jarwo : (Tok, tok, tok) Dek, abang datang, bukain pintu dunk dek Surti yang cantik.
Surti : (Terlihat membuka pintu dan menatap ke arah anak perempuan kecil yang dibawa Jarwo), anak siapa ini bang, abang ajarin yang kagak bener sama ini anak, atau abang culik?
Jarwo : Tenang Surti, jangan salah paham dulu. Anak ini mencari Ibunya, katanya Ibunya ada di surga.
Surti : Di surga?Dimana itu bang?
Jarwo : Makanya itu aku juga tidak tahu, sekali-kali lah kita bantu orang lain. Dia boleh tinggal sini sementara ya dek Surti ya hehehehe (menampakkan wajah berharap)
Surti : Baiklah, tapi tetep, Abang harus tidur di luar.
Jarwo : jiaaaaah dek, tega kau sama abang.
Surti : bodooo’
Keesokan harinya Jarwo, Indri, Bondet dan Rojak sudah janji ketemu di pos ronda tempat mereka nongkrong.
Bondet : Bagaimana men, kita cari kemana tempat surga itu.
Rojak : Aku tadi malam sih sempet tanya sama anak yang pesta miras bareng aku, katanya kalau mau cari surga ada di tempatnya Mama Yuli, ini alamatnya.(memberikan kertas bertuliskan alamat kepada Jarwo)
Jarwo : Mama Yuli?(sedikit memutar-mutar kertas itu). Sial kamu Jak udah tau aku gak bisa baca malah dikasih kertas ginian. Di geng kita cuma kamu satu-satunya lulusan SD, aku dan Bondet ngesot bangku sekolah aja kagak pernah.
Rojak : hehehehe sengaja (ketawa puassss), Kalau begitu ayo kita berangkat, aku tahu dimana tempatnya.
Mereka segera berangkat dan tidak lama kemudian sudah sampai di tempat Mama Yuli.
Jarwo : Bisa ketemu dengan Mama Yuli?
M. Yuli : Iya beib, saya sendiri. Ada perlu apa?
Jarwo : Kata teman saya di sini tempatnya surga, apa benar?
M.Yuli : owwwwww,hahahaha benar sekali kalian datang di tempat yang tepat.haahahaha. tunggu sebentar, Serliiiiiiii(teriak memanggil seseorang)
Serli : Iya Ma, ada apa?
M. Yuli : Ini ada orang yang mau nyari surga, tolong kamu kasih tahu dimana surga itu.
Serli : Owww, mari ikut aku ke dalam.
Jarwo : Biar aku periksa dulu, kalian tunggu di sini. (menatap Rojak, Bondet serta Indri dan berjalan mengikuti Serli)
Serli : (Menutup pintu kamar) Mau cari apa?
Jarwo : Aku mau cari surga
Serli : owwww..Akulah surga, kemarilah dan rasakan surgaku ini.
Jarwo : (Terlihat kebingungan) aku tanya dimana surga itu, malah disuruh bermain di atas ranjang.
Serli : Ow, ow, ow bukannya aku ini surganya para lelaki, mereka ke sini mengeluarkan banyak uang hanya untuk surga yang kau tawarkan ini.
Jarwo : Bangsat, itu untuk lelaki hidung belang yang membutuhkan orang sepertimu, bukan aku. Ini bukan yang aku cari, sebaiknya aku pergi dari sini.
Indri : Bagaimana bang?
Jarwo : Ini bukan tempat yang dicari, ini surga mereka bukan surga kita. Sebaiknya kita pergi dari sini.
Seharian mereka mencari dimana surga berada, sampai kecapekan dan kemudian mampir disalahsatu warung pinggir jalan
Rojak : Mak kopinya tiga, sama es teh satu.
Mak Warung : Iya den, dari mana ini kok kelihatannya capek semua?
Indri : Ini Mak, aku mau mencari surga? Katanya Ibuku sudah di sana, aku ingin bertemu Ibuku.
Mak Warung : Loh kok aneh, setahu Mak waktu dengerin pengajian kalau kita mau menemui surga , kita harus berbuat baik neng. Tapi bukan di dunia ini.
Indri : terus dimana Mak?
Mak Warung : Mak juga gak tahu.(menyodorkan es teh)
Jarwo : Indri, buku apaan tuh? Abang liat dari kemaren kamu bawa terus
Indri : Bukan apa-apa kok bang, Cuma rahasia. Hehehehe
Bondet : Anak kecil kok pakek rahasia-rahasiaan hahahahaha
Setelah merasa kenyang melahap gorengan, tiba-tiba Jarwo menarik tangan Indri
Jarwo : Ayo kaburrrrrr…….!!!!
Mak Warung : woeee, woeee, bayar dulu..waduhhh daganganku ludesss, dasar preman gilaaa…
Berhenti mereka di sudut gang.
Indri : kenapa tadi kabur bang?
Jarwo : Kita kagak bawa duwit.
Bondet : Ini lah kehidupan kita kalau ingin bertahan hidup.
Indri : Indri maunya kita kembali.
Rojak : gilaaaa, mau bunuh diri?gak usahhhh..!
Jarwo : heh curut kecil, kalau kamu mau balik, balik sana sendiri
Indri pun kembali sendirian tanpa di temani Jarwo, Rojak dan Bondet.
Indri : Mak.. Maaf Mak tadi kita lari, aku rela kerja di sini supaya bisa membayar utang tadi.
Mak Warung : Ya ampun, baik sekali hatimu dek. Gak usah dek, gak usah. Adek pergi saja, ini ada sedikit makanan, bawa siapa tahu nanti adek lapar.
Indri : Makasih Mak.
Indri berjalan menuju gang yang masih tampak ada Jarwo,Rojak dan Bondet.
Indri : tuh kan, apa Indri bilang…kebaikan itu pasti selamat.
Jarwo : ahhhh perduli setan, kamu masih mau mencari surga gak?
Indri : iya bang.
Jarwo : ya sudah ayo kita cari.
Sore telah tiba dan akhirnya mereka menyerah dalam pencariannya.
Bondet : Aku nyerah dah bos. Surga itu memang kagak ada.
Rojak : Bener Ndet surga emang kagak ada, tauk ah gelap.
Indri : Tolong dunk bang, tolongin Indri menemukan surga ( menangis menarik baju Jarwo)
Jarwo : Indri, hari ini kita cukup dulu nyarinya, besok kita lanjutkan lagi.
Dari arah belakang berlarian Mat Brewok dan anak buahnya ingin menyerang.
Mat Brewok : Woeeee kau cari masalah denganku, Serbuuuuuuuuuuu…
Terjadilah perkelahian yang amat sengit. Menyadari dirinya akan kalah Mat Brewok sekejap mengeluarkan pisau dari pinggangnya dan akan menusukkan kepada Jarwo.
Mat Brewok : Rasakan ini…..!
Tiba-tiba Indri lari berusaha melindungi Jarwo dari pisau itu.
Indri : Jangaaaaannnnnn.
Indri tertusuk dan terkapar di jalan. Mat Brewok yang mengetahui ada korban yang berdarah memerintahkan anak buahnya untuk segera lari.
Mat Brewok : Kabooooooorrrrrrr.
Jarwo : Indriiiiii,kamu tidak apa-apa?(berusaha memangku Indri)
Indri : Tidak apa-apa bang, cuma tubuh Indri terasa dingin sekali.
Jarwo : Ya Tuhaaaaannn.(sedih melihat seorang anak kecil mengorbankan nyawanya demi dia)
Indri : Aku melihat Ibu melambaikan tangannya( sambil menujuk ke arah sebeberang jalan), Dia tersenyum kepadaku dan menginginkan aku ikut bersamanya.
Jarwo : Jangan bilang seperti itu Indri, kamu akan selamat kita akan menolongmu.
Indri : Ibu semakin dekat padaku, terimakasih bang. Bang Jarwo, bang Rojak, dan bang Bondet. Kalian telah membantuku menemukan menemukan Ibuku. Terimakasih, terimaka……sih.(Indri menghembuskan nafas terakhirnya dan suasana hening dan haru pun menyelimuti senja di sore itu.
Beberapa hari kemudian di pemakaman Indri,terlihat Jarwo, Bondet dan Rojak. Jarwo memegang dan membuka buku yang selalu dibawa Indri kemanapun dia pergi. Di dalam buku itu tertuliskan “ Indri tidak punya banyak mimpi dan angan. Tetapi aku ingin sekali satu hal, satu hal itu tidak mahal dan tidaklah berlebih. Aku hanya ingin dipeluk oleh Ibuku, walaupun itu hanya sekejap saja”.
Jarwo : (dalam hati) Selamat jalan Indri, semoga kau beristirahat tenang di sana. Dan kau bisa mendapatkan hangatnya pelukan Ibumu. Indri, mungkin kau yang berhasil lebih dulu melihat surga. Terimakasih ya Allah, melalui Indri Engkau telah membawaku ke jalan yang lurus dan kau telah membantuku keluar dari kesesatan. Aku akan terus berjalan dan berjalan berusaha sekuat tenaga, hingga waktunya nanti aku bisa menemukan surga yang sesungguhnya. (berjalan meninggalkan makam Indri).
“Tamat”
Jarwo : (sambil membuang putung rokok yang telah dihisap) hahaahhaahhahahahaha aku penguasa di sekitar sini! Binatang jalang yang ditakuti semua orang. Akan ku sikat semua uang orang yang lewat di hadapanku. Bukannya sama saja aku dengan para petinggi-petinggi yang korupsi itu sodara. Cuma bedanya mereka pakek cara halus dan preman pakek cara kasar. Hahahahaha akulah orang terhebat....hahahahahaha.
Surti : (menjitak kepala suaminya dari belakang) ealaaaahhhh, disuruh nyuci piring lhakok malah main-main di sini.pulang,pulang, pulang. Mau tidur di luar lagi (Sambil menjewer kuping Jarwo)
Jarwo : Ampun dek Surti, ampun, ampun…..(Sambil berjalan mengikuti jeweran Surti)
Di seberang jalan pinggir kota terlihat Jarwo dan Rojak bermain kartu domino sambil meneguk beberapa botol minuman keras. Tiba-tiba dari arah jalan raya berlari Bondet dengan wajah panik menuju tempat kedua temannya.
Jarwo : Ada apa ndet? Kelihatannya kamu kayak orang kesurupan begitu?
Bondet : Gawat Bro, gawaaat. (ngos-ngosan seperti hampir kehabisan nafas)
Rojak : Tenang, tenang. Setelah tenang baru ceritakan ada apa.
Bondet : anu, ada anak buahnya Mat Brewok brengsek sedang malak anak-anak sekolah di tempat kita
Jarwo : anjiiiing! Dia gak mandang aku sebagai pemimpin di wilayah ini. Selalu orang itu cari masalah, ayo…kita hajar mereka.
Berangkatlah mereka bertiga menemui anak buah Mat Brewok yang tengah melakukan transaksi narkoba.
Jarwo : hei bangsaaat….ngapain kau di situ. Aku hancurkan kalian semua.( sambil berjalan mendekati tempat transaksi)
Cukup tenang ketiga anak buah Mat Brewok mendengar gertakan Jarwo.
A.B1 : Banyak bacot kau, aku jadikan kau kerupuk kulit.( berlari mengawali serangan)
Satu jam perkelahian dan akhirnya anak buah Mat Brewok pun kalah.
Jarwo : (Menyincing kerah baju salah satu anak buah Mat Brewok) Bilang sama bos kau yang kutu kupret itu. Kalau kalian masih malak orang di wilayah kekuasaanku, kalian akan aku kirim ke SUUURRRGAAAAAAAAA!!!!!!!
A.B : Ampun bang, ampun…
Di samping trotoar terlihat anak kecil yang tanpa sengaja mendengarkan omongan Jarwo tadi.
Indri : Surga? Apa Abang itu tidak salah bicara? Berarti dia bisa membantuku.(Duduk tersimpu di pinggir jalan dengan menutup mulutnya dengan lutut).
Jarwo : Gimana bro kalian gak papa, ayo kita pulang
Bondet dan Rojak : Gak papa bos.(memegangi pipinya yang memar dan mengikuti langkah Jarwo pulang).
Ditengah perjalanan pulang mereka bertiga sadar kalau dia telah dibuntuti oleh anak kecil. Jarwo memerintahkan kedua temannya untuk lari dan bersembunyi di belokan gang depan. Anak kecil itupun ikut lari, seketika bingung sosok yang diikuti lenyap begitu saja. Tiba-tiba jarot membekap mulut anak dari belakang dan menyeretnya ke samping gang
Jarwo : Jiaaaahhh, kena kau curut kecil…..hahahahaha
Indri : Ampun bang, ampun… saya cuma minta tolong sama abang.
Jarwo, Rojak, dan Bondet terdiam seketika, kemudian melepaskan dekapannya dan mencari posisi duduk yang enak. Sambil menyalakan sepuntung rokok Jarot menanyakan nama dan maksud si pembuntut kecil itu.
Jarwo : Siapa namamu? Trus maksud kamu apa minta bantuan sama kita?
Indri : Namaku Indri, tadi denger Abang bicara tentang surga dan aku ingin tahu dimana surga itu berada.
Jarwo : Surga??? Kapan yah??? Waduh perasaan aku kagak pernah bicara-bicara tentang surga. Gimana menurutmu Jak, Ndet???
Bondet : Surga?? Itu apa yah??? Pasti sesuatu…
Rojak : Alhamdulillah yaaah….aku tahu dunk, yang biasanya disebut-sebut upah dari kebaikan itu kan, kayaknya begitu hahahaha.
Jarwo : Upah dari kebaikan? Aneh…dimana alamat surga ya. Kalau misalnya tidak ada upahnya kira-kira apa mau, orang-orang yang menamai dirinya “malaikat bumi” masih tetap berbuat baik…hahahahaha… Akhirnya kita juga yang menang….Preeeeeeeemaaann hahahahaha
Bondet& Rojak : (mengikuti tertawa si Jarot tanpa mengetahui maksud dari perkataannya). Hahahahahahaha
Rojak : oiya…Indri dimana rumahmu? Kenapa kamu mencari tempat itu. ada urusan apa kamu mau ke surga.
Indri : Aku tidak punya rumah, kata pemuda yang ada di Masjid dulu, Ibuku sudah ada di Surga. Aku ingin mencari dan bertemu dengan Ibuku.
Bondet : ibumu di Surga?
Jarwo : Kalau begitu kita akan bantu kamu mencari dimana Surga itu, tapi jangan sekarang sudah sore, besok pagi saja kita cari bersama-sama. Sementara kau tinggal di rumahku saja.
Rojak : Istrimu kagak cuap-cuap tuh Wok….? Lu kan takutnya setengah mati sama istrimu.
Jarwo : Bukannya takut Jak, masalahnya gua kagak dikasih jatah neeehh kalau ngelawan. Gampang dah si Surti biar aku yang urus.
Berpisahlah mereka semua menuju rumah masing-masing. Setibanya di rumah Jarwo dengan sedikit keraguan Jarwo mengetuk pintu rumahnya.
Jarwo : (Tok, tok, tok) Dek, abang datang, bukain pintu dunk dek Surti yang cantik.
Surti : (Terlihat membuka pintu dan menatap ke arah anak perempuan kecil yang dibawa Jarwo), anak siapa ini bang, abang ajarin yang kagak bener sama ini anak, atau abang culik?
Jarwo : Tenang Surti, jangan salah paham dulu. Anak ini mencari Ibunya, katanya Ibunya ada di surga.
Surti : Di surga?Dimana itu bang?
Jarwo : Makanya itu aku juga tidak tahu, sekali-kali lah kita bantu orang lain. Dia boleh tinggal sini sementara ya dek Surti ya hehehehe (menampakkan wajah berharap)
Surti : Baiklah, tapi tetep, Abang harus tidur di luar.
Jarwo : jiaaaaah dek, tega kau sama abang.
Surti : bodooo’
Keesokan harinya Jarwo, Indri, Bondet dan Rojak sudah janji ketemu di pos ronda tempat mereka nongkrong.
Bondet : Bagaimana men, kita cari kemana tempat surga itu.
Rojak : Aku tadi malam sih sempet tanya sama anak yang pesta miras bareng aku, katanya kalau mau cari surga ada di tempatnya Mama Yuli, ini alamatnya.(memberikan kertas bertuliskan alamat kepada Jarwo)
Jarwo : Mama Yuli?(sedikit memutar-mutar kertas itu). Sial kamu Jak udah tau aku gak bisa baca malah dikasih kertas ginian. Di geng kita cuma kamu satu-satunya lulusan SD, aku dan Bondet ngesot bangku sekolah aja kagak pernah.
Rojak : hehehehe sengaja (ketawa puassss), Kalau begitu ayo kita berangkat, aku tahu dimana tempatnya.
Mereka segera berangkat dan tidak lama kemudian sudah sampai di tempat Mama Yuli.
Jarwo : Bisa ketemu dengan Mama Yuli?
M. Yuli : Iya beib, saya sendiri. Ada perlu apa?
Jarwo : Kata teman saya di sini tempatnya surga, apa benar?
M.Yuli : owwwwww,hahahaha benar sekali kalian datang di tempat yang tepat.haahahaha. tunggu sebentar, Serliiiiiiii(teriak memanggil seseorang)
Serli : Iya Ma, ada apa?
M. Yuli : Ini ada orang yang mau nyari surga, tolong kamu kasih tahu dimana surga itu.
Serli : Owww, mari ikut aku ke dalam.
Jarwo : Biar aku periksa dulu, kalian tunggu di sini. (menatap Rojak, Bondet serta Indri dan berjalan mengikuti Serli)
Serli : (Menutup pintu kamar) Mau cari apa?
Jarwo : Aku mau cari surga
Serli : owwww..Akulah surga, kemarilah dan rasakan surgaku ini.
Jarwo : (Terlihat kebingungan) aku tanya dimana surga itu, malah disuruh bermain di atas ranjang.
Serli : Ow, ow, ow bukannya aku ini surganya para lelaki, mereka ke sini mengeluarkan banyak uang hanya untuk surga yang kau tawarkan ini.
Jarwo : Bangsat, itu untuk lelaki hidung belang yang membutuhkan orang sepertimu, bukan aku. Ini bukan yang aku cari, sebaiknya aku pergi dari sini.
Indri : Bagaimana bang?
Jarwo : Ini bukan tempat yang dicari, ini surga mereka bukan surga kita. Sebaiknya kita pergi dari sini.
Seharian mereka mencari dimana surga berada, sampai kecapekan dan kemudian mampir disalahsatu warung pinggir jalan
Rojak : Mak kopinya tiga, sama es teh satu.
Mak Warung : Iya den, dari mana ini kok kelihatannya capek semua?
Indri : Ini Mak, aku mau mencari surga? Katanya Ibuku sudah di sana, aku ingin bertemu Ibuku.
Mak Warung : Loh kok aneh, setahu Mak waktu dengerin pengajian kalau kita mau menemui surga , kita harus berbuat baik neng. Tapi bukan di dunia ini.
Indri : terus dimana Mak?
Mak Warung : Mak juga gak tahu.(menyodorkan es teh)
Jarwo : Indri, buku apaan tuh? Abang liat dari kemaren kamu bawa terus
Indri : Bukan apa-apa kok bang, Cuma rahasia. Hehehehe
Bondet : Anak kecil kok pakek rahasia-rahasiaan hahahahaha
Setelah merasa kenyang melahap gorengan, tiba-tiba Jarwo menarik tangan Indri
Jarwo : Ayo kaburrrrrr…….!!!!
Mak Warung : woeee, woeee, bayar dulu..waduhhh daganganku ludesss, dasar preman gilaaa…
Berhenti mereka di sudut gang.
Indri : kenapa tadi kabur bang?
Jarwo : Kita kagak bawa duwit.
Bondet : Ini lah kehidupan kita kalau ingin bertahan hidup.
Indri : Indri maunya kita kembali.
Rojak : gilaaaa, mau bunuh diri?gak usahhhh..!
Jarwo : heh curut kecil, kalau kamu mau balik, balik sana sendiri
Indri pun kembali sendirian tanpa di temani Jarwo, Rojak dan Bondet.
Indri : Mak.. Maaf Mak tadi kita lari, aku rela kerja di sini supaya bisa membayar utang tadi.
Mak Warung : Ya ampun, baik sekali hatimu dek. Gak usah dek, gak usah. Adek pergi saja, ini ada sedikit makanan, bawa siapa tahu nanti adek lapar.
Indri : Makasih Mak.
Indri berjalan menuju gang yang masih tampak ada Jarwo,Rojak dan Bondet.
Indri : tuh kan, apa Indri bilang…kebaikan itu pasti selamat.
Jarwo : ahhhh perduli setan, kamu masih mau mencari surga gak?
Indri : iya bang.
Jarwo : ya sudah ayo kita cari.
Sore telah tiba dan akhirnya mereka menyerah dalam pencariannya.
Bondet : Aku nyerah dah bos. Surga itu memang kagak ada.
Rojak : Bener Ndet surga emang kagak ada, tauk ah gelap.
Indri : Tolong dunk bang, tolongin Indri menemukan surga ( menangis menarik baju Jarwo)
Jarwo : Indri, hari ini kita cukup dulu nyarinya, besok kita lanjutkan lagi.
Dari arah belakang berlarian Mat Brewok dan anak buahnya ingin menyerang.
Mat Brewok : Woeeee kau cari masalah denganku, Serbuuuuuuuuuuu…
Terjadilah perkelahian yang amat sengit. Menyadari dirinya akan kalah Mat Brewok sekejap mengeluarkan pisau dari pinggangnya dan akan menusukkan kepada Jarwo.
Mat Brewok : Rasakan ini…..!
Tiba-tiba Indri lari berusaha melindungi Jarwo dari pisau itu.
Indri : Jangaaaaannnnnn.
Indri tertusuk dan terkapar di jalan. Mat Brewok yang mengetahui ada korban yang berdarah memerintahkan anak buahnya untuk segera lari.
Mat Brewok : Kabooooooorrrrrrr.
Jarwo : Indriiiiii,kamu tidak apa-apa?(berusaha memangku Indri)
Indri : Tidak apa-apa bang, cuma tubuh Indri terasa dingin sekali.
Jarwo : Ya Tuhaaaaannn.(sedih melihat seorang anak kecil mengorbankan nyawanya demi dia)
Indri : Aku melihat Ibu melambaikan tangannya( sambil menujuk ke arah sebeberang jalan), Dia tersenyum kepadaku dan menginginkan aku ikut bersamanya.
Jarwo : Jangan bilang seperti itu Indri, kamu akan selamat kita akan menolongmu.
Indri : Ibu semakin dekat padaku, terimakasih bang. Bang Jarwo, bang Rojak, dan bang Bondet. Kalian telah membantuku menemukan menemukan Ibuku. Terimakasih, terimaka……sih.(Indri menghembuskan nafas terakhirnya dan suasana hening dan haru pun menyelimuti senja di sore itu.
Beberapa hari kemudian di pemakaman Indri,terlihat Jarwo, Bondet dan Rojak. Jarwo memegang dan membuka buku yang selalu dibawa Indri kemanapun dia pergi. Di dalam buku itu tertuliskan “ Indri tidak punya banyak mimpi dan angan. Tetapi aku ingin sekali satu hal, satu hal itu tidak mahal dan tidaklah berlebih. Aku hanya ingin dipeluk oleh Ibuku, walaupun itu hanya sekejap saja”.
Jarwo : (dalam hati) Selamat jalan Indri, semoga kau beristirahat tenang di sana. Dan kau bisa mendapatkan hangatnya pelukan Ibumu. Indri, mungkin kau yang berhasil lebih dulu melihat surga. Terimakasih ya Allah, melalui Indri Engkau telah membawaku ke jalan yang lurus dan kau telah membantuku keluar dari kesesatan. Aku akan terus berjalan dan berjalan berusaha sekuat tenaga, hingga waktunya nanti aku bisa menemukan surga yang sesungguhnya. (berjalan meninggalkan makam Indri).
“Tamat”
Hukum Seharusnya Buta
Mendengar kata keadilan seakan terlihat ada banyak keadilan disekitar kita dengan berbagai peraturan tetekbengek untuk memperkuat konsistensi keadilan tersebut. seharusnya keadilan tidak memandang dengan siapa dan untuk kepentingan apa.
Bicara masalah hakekat keadilan yang mampu berlaku adil hanyalah Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan memberi kekurangan dan kelebihan bagi setiap manusia.Adapun terkait dengan keadilan menurut versi manusia tentunya dari salah satu diantara dua orang atau dua pihak akan merasa dirugikan. karena berbicara mengenai kepuasan manusia tidak akan merasa puas terhadap sesuatu yang diterimanya.
Dalam Alquran telah dijelaskan
" Sesungguhnya telah Kami utus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan Al-Mizan supaya manusia dapat menegakkan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasulNya sedangkan Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat Lagi Maha Perkasa." (Al-Qur'an 57:25). dari penjelasan ini sudah jelas bahwa keadilan harus ditegakkan. Tapi coba kita lihat apa yang terjadi di negeri kita tercinta ini. mari kita perbincangkan dengan santai sebuah lelucon ini.
dari luar penjara semacam tempat kos-kosan.
bagaimana kalau yang ini?
dan siapa yang jadi penghuninya?
mungkin kita tidak mengenalnya, tapi sedikit banyak tahu tentang dia.
Kawan, akankah ada perubahan di negeri yang gemah ripah loh jinawi ini....?tantangan besar bagi generasi penerus.
Kamis, 10 November 2011
Mau Dibawa Kemana Mereka???
Apakah masih ada harapan untuk mereka merasakan apa yang kita rasakan sekarang????
pendidikan diabaikan untuk mencari sesuap nasi
bisa kah mereka mandiri?
Tampilan fisik yang kelihatan kucel dan kotor yang selalu berlalu lalang di jalan. Mereka tumbuh dan berkembang dengan latar kehidupan jalanan dan akrab dengan kemiskinan, penganiayaan, dan hilangnya kasih sayang, sehingga memberatkan jiwa dan membuatnya berperilaku negatif. Apa yang bisa kita lakukan untuk terjadinya perubahan di sekitar kita.Anak jalanan masih berpeluang untuk mengubah nasibnya melalui belajar, karena itu perlu menggali sumber atau pendukung program bagi mereka. Agar anak-anak jalanan mau mengikuti program yang kita buat, maka sumber belajar harus bersikap empati dan mampu meyakinkan kepada mereka, bahwa program pendidikan tersebut benar-benar mendukung pengembangan diri mereka. Untuk itu, penguasaan terhadap karakteristik dan kebutuhan belajar anak-anak jalanan akan sangat membantu para sumber belajar untuk bersikap empati kepada mereka. Saran dan masukan sangat diperlukan untuk dapat melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Mari kita lakukan perubahan. Semangat :-)
pendidikan diabaikan untuk mencari sesuap nasi
bisa kah mereka mandiri?
Tampilan fisik yang kelihatan kucel dan kotor yang selalu berlalu lalang di jalan. Mereka tumbuh dan berkembang dengan latar kehidupan jalanan dan akrab dengan kemiskinan, penganiayaan, dan hilangnya kasih sayang, sehingga memberatkan jiwa dan membuatnya berperilaku negatif. Apa yang bisa kita lakukan untuk terjadinya perubahan di sekitar kita.Anak jalanan masih berpeluang untuk mengubah nasibnya melalui belajar, karena itu perlu menggali sumber atau pendukung program bagi mereka. Agar anak-anak jalanan mau mengikuti program yang kita buat, maka sumber belajar harus bersikap empati dan mampu meyakinkan kepada mereka, bahwa program pendidikan tersebut benar-benar mendukung pengembangan diri mereka. Untuk itu, penguasaan terhadap karakteristik dan kebutuhan belajar anak-anak jalanan akan sangat membantu para sumber belajar untuk bersikap empati kepada mereka. Saran dan masukan sangat diperlukan untuk dapat melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Mari kita lakukan perubahan. Semangat :-)
Langganan:
Postingan (Atom)







